Rabu, 25 Maret 2015

Deskripsi H-58: Setan



Kata setan, jin, dan malaikat tentu sudah lazim dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian kalangan menyebut mereka sebagai makhluk astral - sebutan populer masa kini untuk para makhluk ghaib atau tak kasat mata. Iblis ini adalah dedengkot alias Raja Setan. Ia adalah nenek moyang setan seperti halnya Nabi Adam yang merupakan nenek moyang manusia. Baik manusia maupun jin adalah makhluk yang Tuhan ciptakan untuk menyembah-Nya. Barangsiapa di antara mereka sesat dan menyesatkan umat-Nya berarti dapat disebut pula sebagai setan dari golongan jin dan manusia.

Adapun iblis bisa disebut sebagai biang kerok berbagai kejahatan yang timbul di muka bumi ini. Kedengkian terhadap manusia membuatnya berjanji untuk menyesatkan seluruh anak cucu Adam kecuali hamba-Nya yang mukhlis. Melalui tipu dayanya, dijadikan indah segala dosa dan maksiat di hadapan manusia. Padahal sejatinya manusia dilahirkan bersih, suci dan lurus. Namun, terlampau banyak berkecimpung dengan dosa membuat manusia menjadi keiblis-iblisan. Dosa membuat iblis dan bala tentaranya leluasa menguasai manusia sehingga mereka jauh dari kebenaran. 

Namun, bicara mengenai peristiwa kesetanan adalah sebuah fenomena berbeda. Kesetanan atau disebut juga kesurupan sebetulnya adalah peristiwa merasuknya jin ke dalam tubuh manusia. Penyebabnya beragam, bisa karena jin jatuh cinta dan bersyahwat pada manusia, manusia bersikap jahat pada jin (misalnya dengan membuang air panas ke saluran air tempat tinggal jin) atau manusia yang berada dalam keadaan marah/sedih/takut/melamun/syahwat berlebih. Untuk mengusir jin yang berada dalam tubuh, ruqyah adalah cara yang paling sesuai dengan syariat Islam. Mendatangi dukun atau paranormal adalah sebuah kesyirikan atau menyekutukan Tuhan. Hal tersebut dilarang keras dalam agama. 

Agar terhindar dari tipudaya setan, manusia hendaknya kembali pada tujuan ia diciptakan yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan kuasa untuk memilih baik atau buruk yang dianugerahkan-Nya, pilihan untuk bertakwa pada Tuhan akan mengangkat derajat manusia di atas para malaikat. Mengapa demikian? Karena malaikat sendiri diciptakan tanpa hawa nafsu maupun kecenderungan pada hal-hal duniawi, mudah saja bagi mereka untuk taat. Sementara manusia dengan godaan di sekelilingnya menghadapi banyak tantangan untuk tetap taat pada perintah-Nya. Kesanggupan untuk mengatasi seluruh godaan setan serta hawa nafsu yang buruk inilah kelak yang akan Ia ganjar di akhirat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar