Senin, 09 Maret 2015

Deskripsi H-42: Asa



Dini sedikit kesal pada mentor kuliah bisnisnya, Kak Tia. Kak Tia ramah, namun ucapannya kadang terlalu tajam. Tak heran jika beberapa rekan lain mundur dari kuliah bisnis dengan berbagai alasan. Harapan menjadi pengusaha sukses sepertinya menguap entah ke mana. Begitu Sari, seorang peserta pernah bilang. Ia berkata demikian setelah Kak Tia mengkritik kemampuannya menghitung neraca laba-rugi yang jalan di tempat. Kak Tia bilang, Sari kurang teliti dalam perhitungan keuangan. Padahal, Sari belajar dengan effort yang cukup keras di tengah kegiatan yang begitu padat. Pikiran-pikiran mengenai kemustahilan melingkupi benak Sari. Mustahil menjadi pengusaha sukses jika baru menulis sudah dibantai habis-habisan, ibaratnya seperti itu. 

Dini sendiri bukannya bebas kritik. Kak Tia pernah bilang dia kurang kreatif dalam mengembangkan konsep bisnis. Selalu seputar bisnis konvensional. Mendengar ucapan seperti itu dalam hati Dini kurang dapat menerima. Mereka belum lama saling mengenal. Rasanya kurang adil langsung dihakimi seperti itu. Kak Tia cuma belum tahu saja. Dan nanti ia berencana memperlihatkannya. Kalaupun kelak kritik Kak Tia masih keluar ya sudahlah. Beda orang beda kepala. Ia tak perlu menelan bulat-bulat apa kata Kak Tia. Ambil yang penting-pentingnya sajalah dan lupakan hal lain yang kurang relevan. 

Memang tidak mungkin menggantung asa hanya kepada apa kata orang, renung Dini. Kalau hanya bergantung harap pada pujian orang, tidak ada yang jalan. Mengasakan diri itu bukan begitu caranya. Bisa saja mereka yang kurang menonjol di kelas atau nilainya relatif jelek menjadi orang sukses di masa depan. Orang tak boleh menilai masa depan dari apa yang ada sekarang karena semua bisa berubah. Dan Dini sendiri memiliki keyakinan, bisnis yang bagus itu tak perlu sensasional. Sepanjang bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup orang lain, itu sudah cukup. Itu goal-nya sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar