Minggu, 01 Maret 2015

Deskripsi H-34: Bangun



Malam mencekam di rumah kediaman seorang wanita paranormal. Konon, rumah ini sering didatangi oleh arwah Nyi Roro Kidul. Salah satu kamar di rumah itu menjadi tempat sang arwah bersemedi. Pemilik rumah sengaja menyiapkan kamar yang terbaik dan terbesar untuk beliau. Ia menata ruangan itu dengan bunga-bunga, lukisan dan asesoris berwarna hijau. 

Kinasih adalah seorang wanita muda yang berniat ngalap berkah di rumah itu. Gadis muda yang cantik dan jangkung itu berharap bisa lebih sukses dalam menapaki kariernya sebagai seorang penyanyi. Setelah minta izin pada sang paranormal, akhirnya ia diperbolehkan masuk ke kamar semedi. Aryo, sang pacar berniat mengabadikan peristiwa ini dalam handy-cam nya. Sebenarnya Kinasih sempat melarangnya, namun Aryo nekat masuk untuk merekam. Ia berdalih akan merekam dengan infra-red. Pada saat itulah, tiba-tiba Kinasih tak sadarkan diri di atas ranjang. Ia bagaikan tertidur. Namun, tidur Kinasih tidak lama. Tak lama kemudian, ia terbangun. Aryo memandang bola matanya. Retina mata yang semula cokelat itu berubah menjadi hijau. Sorot matanya aneh, begitu tajam seolah bukan manusia. Matanya menyapu seisi ruangan dengan tatapan garang. Pada saat bangun, Kinasih yang lembut dan feminin seolah hilang entah ke mana. Tergantikan oleh sosok makhluk yang marah dari arwah ghaib yang bersemayam di dalam tubuhnya. Rupanya arwah tersebut bangkit merasuki tubuhnya untuk menegur Aryo yang bertindak kurang ajar dengan mencoba merekam prosesi ini. 

Perasaan berat mengikuti kebangkitan arwah tersebut dalam jasad Kinasih. Rambut panjangnya yang lurus tertata rapi menjadi berantakan. Lehernya bergerak menjulur bagai Sang Dewi Ular. Gerakan tangannya patah-patah menyeramkan. Ia menggeram dengan suara yang seperti berasal dari dunia lain. Perlahan ia berkata setengah berbisik pada Aryo.

“Sedang apa kamu?” 

“Syuting,” sahut Aryo. Nyalinya agak ciut juga. 

“Matikan itu!” desisnya. Ia mendekati Aryo dengan langkah patah-patah. Matanya nyalang sangat menakutkan. Setelah dekat, ia seperti hendak menerkam Aryo. Melihat kejadian ini, sang paranormal langsung menengahi. 

“Nak, Ibu mohon keluar ya. Ibu kuatir hal berbahaya akan terjadi sama kamu,” bisiknya di telinga Aryo. Aryo mengangguk gelagapan. Tak tahan lebih lama lagi menghadapi tatapan mata yang demikian menghunjam dari sang makhluk ghaib!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar