Senin, 02 Maret 2015

Deskripsi H-35: Sukses



Pak Kandi geleng-geleng kepala saat menyaksikan ambulan itu berlalu dari hadapannya. Lagi-lagi seorang murid bunuh diri. Murid itu masih duduk di kelas 9 sekolah bertaraf internasional tersebut. Di sekolah ini memang ada sejumlah murid sekolah yang bunuh diri. Rata-rata usia SMP maupun SMA. Pak Kandi tak tahu berapa persisnya. Yang pasti, di media massa hanya keluar beberapa orang saja karena pihak sekolah berhasil menutup-nutupi. 

Sebagai tukang sapu, Pak Kandi seringkali kagum melihat keberhasilan orang tua para murid sekolah tempat ia mengabdi. Rata-rata dari mereka orang sukses. Mereka mengantar jemput anak-anak dengan mobil mewah. Penampilan mereka mentereng, berkilauan, beda dengan orang kebanyakan. Pendapatan mereka sulit dikira-kira oleh Pak Kandi. Yang ia tahu, angka nol pasti berderet berjejalan di belakangnya. Coba hitung berapa! Kesuksesan tersebutlah yang mengantar mereka menyekolahkan putra-putrinya kemari. Betapa tidak, bayaran di sini bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulannya! Setahun mungkin sudah setara dengan satu unit rumah. Apalagi, mereka ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi orang yang berhasil. Dan sekolah ini memiliki standar tertinggi dalam kualitas akademis. Materi yang diajarkan jauh lebih berat dari sekolah pada umumnya. Dengan kata lain, masuk sekolah ini adalah pilihan yang tepat. 

Setidaknya, teorinya sih begitu, pikir Pak Kandi. Sayang, anak-anak yang semula dicetak untuk sukses harus berakhir seperti itu. Seorang guru lokal pernah suatu hari mengkritik kondisi-belajar di sekolah ini. Ia sering menyesalkan, betapa takut murid-murid tersebut akan sebuah kegagalan. Ketakutan tersebut banyak berasal dari tuntutan tinggi orang tua mereka. Sedikit kesalahan dalam menjawab soal ujian bagai cela nan tak terperi. Mereka akan langsung dicap gagal, membuat anak bersedih karena merasa kehilangan harga diri. Begitulah kurang lebih kompetisi yang terjadi di antara murid sekolah. Saling mengungguli dalam hal nilai dan prestasi. Amat tidak sehat karena mereka menjadi kurang waktu untuk bersosialisasi maupun mengembangkan diri. Apalagi, sekolah itu menerapkan sistem full day school. Dengan beban akademik seberat itu, mereka harus belajar keras hingga sore hari. Bagai tak punya lagi waktu bernapas. Tak heran jika beberapa murid merasa frustrasi hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Dan lokasi yang acapkali dpilih adalah sebuah menara tertinggi di sekolah itu. Menara itu cukup jarang diakses orang sehingga luput dari pengawasan. Namun setelah yang kesekian kalinya seperti ini, mungkin menara itu harus ditutup saja, pikir Pak Kandi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar