Kamis, 05 Februari 2015

Deskripsi H-9: Rasa

Intro lagu “Citra Biru” yang dibawakan Vina Panduwinata mengalun mengikuti gerak hatiku. Perasaan ini seolah terbawa pada beragam pengalaman masa lalu tentang cinta. Duka, sedih, pilu, bercampur. Namun rasa yang meresap saat ini adalah kebas. Seperti kekebasan yang seolah terangkum dalam bait lagu ini: “Citra biru yang telah berlalu. Membawaku ke angan yang semu, berkabut kelabu, aku semakin ragu. Semakin tak tahu...,” pandanganku remang berbayang. Ingatanku melayang pada masa silam di mana aku jatuh cinta pada beberapa orang di rentang waktu berbeda. Salah satu orang adalah mantan kekasihku dan seorang lagi suami sahabatku. Keduanya telah menikah dan hidup berbahagia.

Aku bagai berada di sebuah pantai sunyi. Tiada seorang pun di sana. Namun suara mereka bergaung memanggilku. Tidak. Tak mungkin aku gores hati mereka tanpa pertimbangan. Saat mencoba timbang semua ini, terasa betul beratnya menahan rasa. Kepasrahan menyergap, hadirkan kembali kerinduan pada sosok yang pernah dicinta. Betapa aku masih mencintai keduanya. Meski begitu mustahil keduanya masih mengingatku. Mereka telah membangun istana yang terlarang bagiku memasukinya. Kuurungkan niat ucapkan kalimat kerinduan. Aku berbalik arah meniti jalan kesendirianku.

Dalam harap, aku ingat nama Tuhan-ku. Dia meneguhkan batin untuk menahan rasa, mengunci rapat mulutku. Biarlah semua rahasia tetap tak terkatakan. Aku memilih mengalah demi kedamaian surga mereka. Bahkan sekalipun air mata ini mengalir deras, biarlah semua menjadi jalan datangnya belas kasih Tuhanku. Dia pelipur lara dan penghapus dosa-dosaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar