Kamis, 26 Februari 2015

Deskripsi H-31: Raut



Sudah sekian lama Icha tak bertemu sahabatnya dari luar kota, Dyah. Dua tahun yang lalu, mereka masih bekerja di kantor yang sama. Namun, Icha mengundurkan diri karena sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kini, mereka bertemu kembali di sebuah restoran. Isal, suami Dyah asyik ngobrol dengan rekan lain di tempat yang agak berjauhan saat mereka berdua mengobrol ringan. Girls talks. Zona wanita. 

Dyah banyak berubah dibanding saat pertama kali mengenalnya. Dulu ia belum berhijab. Tubuhnya memang tinggi kurus, namun Dyah punya gestur yang menggoda. Belum lagi mata ekspresif bersorot agak jalang itu. Kulitnya putih agak pucat dengan rambut hitam pekat mencapai pinggang. Bibirnya tipis dengan wajah tirus. Kulitnya tidak halus sempurna, namun tetap menarik. Penampilan Dyah selalu modis tetapi tidak pasaran. Sifatnya agak sensitif dan sering marah-marah. Namun ia setia kawan, selalu membantu teman yang kesusahan. Jika lebih lama mengenalnya, orang akan tahu bahwa gadis itu memiliki watak yang manis di balik temperamen yang agak keras dan sedikit judes

Ada banyak hal terjadi dalam hidupnya. Beberapa saat setelah Dyah memutuskan berhijab, sang kekasih memutuskan tanpa sebab yang jelas. Saat itu, Dyah menelepon sambil menangis. Ia cerita banyak tentang mantan pacarnya yang temperamental. Tak jarang mantannya melakukan kekerasan dalam pacaran. Ia merasa dibuang setelah memberi cinta begitu banyak. Namun, justru Icha bersyukur. Revin, mantan pacar Dyah bukan cowok baik-baik. Ia dan sahabat-sahabat Dyah yang lain tahu itu dan menyarankan untuk berpisah. Namun karena cinta Dyah selalu mencoba menyangkal. Pada akhirnya, yang terjadi adalah seperti itu. Kini, Dyah telah menikah dengan Isal. Isal pun rekan kerja Icha dulu. Dengan kata lain, mereka bertiga pernah sekantor. Tampang Isal biasa saja, kalah jauh dengan Revin yang putih dan ganteng. Namun ia sopan pada wanita, peramah, baik hati dan rajin shalat. Sebagai sahabat, Icha sangat bersyukur Dyah telah terbebas dari Revin. 

Banyak sekali hal yang mereka bicarakan. Namun Icha masih sempat mengamati raut wajah Dyah. Ekspresi sedih di matanya dulu sudah tidak ada. Mimik sendu seolah mengingat sesuatu yang berat sirna entah ke mana. Raut-raut murung tersebut telah berubah menjadi kebahagiaan. Bahasa tubuh Dyah lebih rileks, santai dan nyaman. Tidak gelisah seperti dulu. Seulas senyum merekah di bibir Icha. Senang sekali rasanya melihat sahabat terbaiknya bisa berbahagia seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar