Senin, 09 Februari 2015

Berita Garing 04: Cahaya Terang Langit Utara dan Efek Pedas Badai Matahari


Minggu lalu, dunia dikejutkan oleh titik cahaya di langit utara bagaikan pertunjukan teater cahaya. Menurut ahli tata surya, ini merupakan efek badai matahari. Cahaya tersebut muncul sekali dalam sebulan selama 1-2 tahun. 

Badai matahari ini menghasilkan energi yang bersinggungan dengan matahari sehingga menghasilkan sinar aurora yang indah pekan lalu. Namun ternyata tak hanya bersinggungan, matahari yang memiliki sifat ’panas’ sehingga mudah tersinggungan ini juga memberikan efek lain berupa peristiwa sangat langka di dunia kuliner, yakni berubahnya energi panas atau bahasa inggrisnya ’hot’ menjadi pedas. Energi ini kemudian dialirkan ke permukaan bumi. Dampaknya, semua mie baso, lomie dan mie ayam yang disinarinya akan menjadi pedas selama 1-2 tahun lamanya sebagaimana disebutkan di atas. Satelit NOAA (Norak AmAt – disebut demikian karena berwarna stabilo) masuk ke dalam kategori S3 dan terus mengalami peningkatan nilai skala. Peningkatan ini ditandai dengan semburan cahaya yang muncul disertai dengan meningkatnya level pedas yang ditimbulkan pada mie baso dan mie ayam – apakah level cabai merah, cabai rawit, cabai keriting atau cabai gendot. 

Pakar cuaca dari Universitas Michigan, Tamas Gombosi menerangkan bahwa peningkatan aktivitas di permukaan matahari akan mengakibatkan banyak badai. Ia menambahkan, peristiwa erupsi ini pun sebuah peringatan bagi penduduk bumi. Siklus sebelas tahunan ini akan kembali normal di tahun mendatang. Siklus itu meningkatkan intensitas gas yang dihasilkan matahari hingga suhunya dapat mencapai 9940 derajat Fahrenheit. Dalam kondisi tersebut, medan magnet permukaan matahari akan beradu sehingga menghasilkan bintik dengan suhu mencapai 5000 derajat celcius. Bintik itu kemudian memuntahkan ledakan berupa partikel dan radiasi tinggi ke luar angkasa. Diperkirakan puncak badai matahari yang berlangsung 24 Januari ini mengganggu sistem satelit di sekitar Kutub Utara. Cahaya yang muncul di langit utara ini ialah hasil hantaman partikel matahari yang menyentuh medan magnet bumi. 

Sementara, praktisi kuliner Bara Api Rajawane mengungkapkan, jika efek cahaya muncul di sekitar kutub utara, efek radiasi berupa rasa pedas pada mie meluas di wilayah selatan bumi seperti Indonesia dan sekitarnya. Dan ini merupakan sebuah fenomena yang perlu disikapi secara positif karena radiasi ini tidak menimbulkan efek samping seperti yang biasa ditemukan pada pengawet makanan ilegal seperti borax atau formalin. Justru fenomena ini bisa membuat para pengusaha kuliner bisa berhemat di tengah fluktuasi harga cabai merah saat ini yang melambung tinggi. Hanya saja Bara mengingatkan agar pada puncak badai matahari mendatang para pengunjung kedai mie baso maupun mie ayam harus berhati-hati karena level pedas yang timbul pada mie setaraf dengan cabai Trinidad Moruga Scorpion yang super pedas dari Chili.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar