Rabu, 18 Februari 2015

Deskripsi H-23: Seluruh

Rinda terdiam. Aneh, sahabat lamanya, Lusi terlihat kian menjaga jarak. Sms tak dibalas. Curhatnya tak didengar. Semua kontak nyaris tak bersisa. Hanya friend list di facebook maupun nomer Lusi di ponselnya yang masih tersisa. Apa aku tempo hari salah bicara? Pikirnya. Mungkin saja begitu. 

Semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, Rinda menclak-menclok ke sana kemari, tidak ikut salah satu geng. Sementara Lusi akrab dengan gengnya yang terdiri atas 4 orang. Geng tersebut sangat eksklusif, tak bisa dimasuki sembarang orang termasuk Rinda. Salah satu anggora geng itu adalah si cantik Devi. Ketika itu, Devi berpacaran dengan Indra. Namun perlahan hubungan mereka putus di tengah jalan saat Indra memutuskan berkarier di luar kota. Devi sendiri adalah seorang gadis yang pikirannya sangat negatif. Hampir semua rekan sekelas tidak menyukainya kecuali geng atau cowok yang naksir dia. Risa, salah satu teman sekelas Rinda pernah mendesis kesal. Ia sedikit curcol mengenai ketidaksukaannya pada Devi. Pernah suatu ketika ia menawari Indra naik motor bareng. Devi langsung membentak dan marah seolah propertinya direbut. 

“Posesif banget sih dia, cemburuan banget!” gerutu Risa. Rinda manggut-manggut setuju. Memang sih, pasangan itu ke mana-mana selalu lengket bak perangko. Saat bukan jam kuliah, Devi selalu kedapatan sedang memeluk Indra manja. Jengah saja rasanya melihat orang yang berpacaran begitu tergila-gila! Terlebih sejak mereka pacaran, rekan-rekan Indra menjauh karena waktunya tersisa untuk Devi seorang. 

Menurut Rinda pribadi sih, keseluruhan sifat Devi agak menyebalkan. Kalau mau dibilang secara lebih positif, mereka berdua tidak cocok. Devi adalah gadis kaya yang cantik dan cerdas. Akan tetapi, pembawaannya murung. Kata-katanya pun sarkastis, tak enak didengar. Ucapannya sering terdengar sinis dan lagaknya sombong. Sifatnya yang pesimis membuat Rinda ogah dekat-dekat kalau tidak terpaksa. Tak jarang Devi melontarkan prasangka buruk pada si ini atau si itu. Membuat jengah siapa pun yang mendengarnya. Tidak hanya itu, ia pun mudah iri hati jika melihat salah satu teman berprestasi atau mendapat nilai lebih tinggi. Oooh, benar-benar tak sehat berteman dengannya! Anehnya, kesemua hal tersebut seolah tak dilihat oleh anggota geng itu. Devi dielu-elukan bagai pusat perhatian di dunia mereka sendiri. 

Namun, ada pengecualian di balik negativitasnya. Entah mengapa, banyak betul cowok mengantri untuk menyatakan cinta atau sekadar mengirimkan salam! Di luar gaya ketusnya, Devi bertubuh tinggi semampai. Ia punya kulit putih yang pucat indah. Suaranya merdu. Gayanya pun feminin. Tapi, yakin nih cowok-cowok itu kuat mendengar komentar negatifnya setiap hari? Kalau jadi cowok sih, Rinda memilih ngacir! Tapi namanya juga cowok, sejelek apapun watak cewek itu, yang penting cantik kali yaa, batinnya lagi. 

Saat terakhir kali Rinda bertemu Lusi, ia keceplosan mengatakan bahwa istri Indra memiliki raut mirip Devi namun wataknya lebih ceria. 

“Devi juga ceria kok,” komentar Lusi. Terdengar tersinggung patronnya dikritik. Seketika Rinda menutup mulut. Aduh, lagi-lagi salah bicara deh! Lagi-lagi aku nggak sensitif! 

Sejak saat itulah, Lusi seolah malas menyapanya. Padahal, dulu-dulu tiap jam kantor mereka selalu chatting di yahoo messenger. Sekarang? Boro-boro! 

Memang, selepas lulus kuliah kisah cinta Devi dan Indra agak complicated. Devi yang curigaan acapkali menuduh Indra selingkuh setelah mereka LDR. Rupanya itu juga yang menjadi bom waktu bagi putusnya hubungan mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar