Jumat, 13 Februari 2015

Deskripsi H-18: Hati-hati

Hafidz terduduk, tampak gemetar di meja kerjanya. Hari masih pagi. Belum ada pasien datang. Ini hari pertamanya bekerja kembali setelah dipenjara karena kasus malpraktek beberapa saat lalu. Problema ini masih membuatnya trauma hingga sekarang. 

Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan berputar mengelilingi ruangan berukuran 4 x 4 meter tersebut. Hati-hati dibukanya lemari berisi antiseptik. Tidak, kotak obat bukan di sini! Cemasnya. Pandangannya berbayang, agak berhalusinasi. “Aku dokter teladan, dokter teladan,” katanya berulang-ulang pada diri sendiri. Terngiang dalam memori saat ia dielu-elukan sebagai lulusan terbaik fakultas kedokteran angkatannya.

Pertama kali bekerja di klinik pemerintah, kariernya cemerlang hingga akhirnya memutuskan keluar dan buka praktek sendiri. Namun, reputasi yang susah payah ia bangun ternyata dirusak oleh satu kecerobohan.

Ceroboh! Ceroboh!” ia bergumam panik. Selama ini, dalam kamusnya terukir kata kecermatan. Sifat cermat yang sudah mencapai taraf perfeksionislah yang mengantarnya menuju predikat summa cum laude saat mengambil ijazah profesi dokter. 

Namun, dalam peristiwa itu kehati-hatian berselisih dengannya. Ia keliru mendiagnosa pasien. Ia malah memberikan resep antibiotik yang menimbulkan resistensi di tubuh pasien. Sesaat setelah mengonsumsi obat, pasien mengalami kejang-kejang lalu meninggal seketika. 

Kemudian, keluarga pasien datang menggugatnya. Ia kalah, masuk penjara dan dilarang buka praktek selama 5 tahun. Hari ini seharusnya ia senang bisa kembali menjalani profesi idaman. Namun nyatanya tidak. Malah ia jadi pasien tetap seorang psikiater yang tiap minggu memberi obat antidepresan untuk usir depresi berkepanjangan yang melandanya selama ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar