Kamis, 19 Februari 2015

Deskripsi H-24: Jarak



Fitri sedang memilah mie instan kemasan di sela matanya tertumbu pada pasangan suami istri yang sedang memilih susu untuk ibu hamil. Ia tersentak. Rizki, mantan pacarnya! Ia mundur ke rak di belakang deretan susu kental manis. Kepalanya agak merunduk agar tak terlihat oleh Rizki. Suami istri itu berdiri berimpitan. Raut wajah mereka tampak bahagia. Fitri memperhatikan sosok wanita itu dengan jantung berdegup dari sela-sela rak shampoo. Dia cantik. Kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik mencerminkan ciri khas oriental. Rambutnya hitam panjang melampaui bahu. Persis di atas dahi, rambut wanita itu ditarik ke belakang dan diganjal dengan sisir jepit hingga terkesan rapi. Tinggi tubuhnya sedikit melampaui bahu Rizki. Di bibirnya terpulas gincu merah, kontras dengan giginya yang putih bersih. Saat tersenyum, ia begitu menawan. Tubuh Fitri gemetar. Hatinya bagaikan terimpit sesuatu. Sesak! Mengapa Rizki sama sekali tak memberi tahu kalau ia sudah menikah? Sebetulnya jarak ia dengan tempat suami istri itu memilih susu untuk ibu hamil tak terlampau jauh. Namun, batinnya dengan Rizki sudah sangat berjarak.
 
Kemudian, sang istri bergerak ke daerah lain. Rizki tetap berada di tempat susu ibu hamil. Fitri nekat menghampirinya. Seketika mulut Rizki menganga. Kilas balik berbagai peristiwa berseliweran di kepalanya. Termasuk kisah cinta mereka yang kandas setahun lalu. Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan. Atmosfer kurang menyenangkan menggelayuti udara. 

“Kamu sudah menikah kenapa dulu nggak kirim undangan?” tanya Fitri lirih dengan pandangan menuduh. Rizki tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang merasa bersalah. 

Namun, belum sempat ia menjawab, sang istri telah datang. Wajahnya tampak tak senang melihat kehadiran Fitri. 

“Siapa?” tanyanya pada Rizki dengan sorot mata curiga. 

Rizki menggelengkan kepala. Gelagapan, Nggak tahu Sayang, aku lupa...” Setitik air mata menggenang di pelupuk mata Fitri. 

“Maaf Mbak, saya keliru menyapa orang,” katanya sambil berlalu dengan langkah terburu-buru. 
Tinggal wanita cantik itu menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan penuh tanda tanya.
Setelah agak jauh, Fitri tak kuasa lagi menahan tangis. Ia segera pergi ke toilet dan menangis sepuasnya. Ternyata sifat Rizki masih tidak berubah. Dasar pembohong besar! Ia mengelap ingusnya dengan tisu. Bisa-bisanya Rizki bersikap pura-pura tidak kenal? Tidak ingatkah bahwa dulu ia pernah merasakan tubuh Fitri? Ia pula yang merayu habis-habisan sehingga Fitri kehilangan pertahanan dan memberikan mahkotanya yang paling berharga! Kemudian, ia menghilang tanpa kabar dan menikah dengan wanita yang lebih cantik? Keterlaluan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar