Kamis, 12 Februari 2015

Deskripsi H-17: Sigap

Suara burung bersahutan dari ketinggian pohon yang mencapai puluhan meter itu. Seberkas sinar mentari menembus rerimbunan daun. Aru, sang bocah rimba menatap sekeliling. Bola matanya awas. Telinganya cermat menangkap gemerisik dahan pohon yang beradu. 

“Tidak ada yang mencurigakan di sekitar sini,” gumamnya. Lantas, ia berjalan hati-hati menuju kedalaman hutan. Pisau kecilnya tangkas menebas ranting dan duri yang menghambat perjalanannya. 

“Groook! Groook!” sebuah suara tak asing terdengar dari balik perdu. Sontak Aru sigap berbalik arah. Anak panahnya melesat, berlari memburu babi hutan yang dengan penuh ketangkasan melarikan diri. 

“Sial, aku lengah!” makinya. 

Tinggal empat anak panah ia miliki. Tak boleh lagi ada babi hutan yang memanfaatkan kelengahanku! Tekadnya. 

Kesigapan diperlukan di sini. Objek buruan tak boleh dianggap enteng. Gerakannya amat gesit. Ia pun bertaring tajam, bisa melukai lawan kapanpun ia mau. 

Aku tak boleh kalah! Batin Aru dengan semangat membara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar