Selasa, 17 Februari 2015

Deskripsi H-22: Tinggal



Berkas sinar mentari pagi memantul pada barisan bulu di permukaan ilalang liar. Tak banyak orang melirik tempat itu. Hanya sebuah jalan yang dilalui oleh lintasan rel kereta api. Bilah-bilah besi rel itu mulai berkarat. Warnanya cokelat tua kemerahan. Di sekitarnya tersebar batu kerikil. Di sela-sela batu kerikil, tumbuh satu-dua rumpun ilalang. 

Rel kereta api di tempat itu adalah satu dari peninggalan zaman Belanda yang masih dipakai hingga saat ini.  Di beberapa daerah lain, memang masih ada sisa rel. Namun, jalurnya ditutup karena sepi penumpang. Lenyap termakan zaman. 

Tak jauh dari tempat itu, berdiri sebuah bangunan sejenis balai yasa untuk perbaikan kereta. Sebagian sudut tembok bolong dan cukup banyak batu bata terlepas dari tumpukannya. Bunga bougenvil menutup salah satu sisi dinding gedung itu. Nyaris tiada sisa-sisa besi atau genteng untuk menutup atap bangunan tersebut. Demikian pula seluruh kaca jendela tampak pecah. Padahal, kelihatannya dahulu itu bangunan bermutu baik. Sayang sekali, dibiarkan begitu saja terbengkalai. 

Dahulu, kereta api pernah berjaya. Menjadi primadona angkutan antar daerah. Namun, keberadaan jalan tol mulai melenyapkan kejayaannya. Ia mengubur banyak kenangan termasuk rel dan gedung tua itu. Masa berganti, zaman berubah. Semua hal tak lagi sama, termasuk gerbong tua yang teronggok di sisi rel. Gerbong bergaya klasik itu senasib dengan kedua rekannya, termakan usia. Lapisan karat mulai menggerogoti badan, pegangan serta tangga besinya. Namun entah mengapa semuanya tetap terlihat indah di bawah sinar mentari itu. Seolah memperlihatkan bahwa ada kebaikan pada seonggok puing-puing. Puing-puing yang pernah memberikan arti bagi kelangsungan hidup manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar