Senin, 16 Februari 2015

Deskripsi H-21: Kota

Hari telah memasuki musim gugur. Selalu ada sensasi aneh saat aku kembali mengunjungi kota ini. Pohon akan berdesir dan bernyanyi. Dedaunan beterbangan ke angkasa bagai pita yang terjalin oleh angin. Rumah bata itu masih kokok berdiri. Tempat mukim di mana aku menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuaku. Kini, mereka telah tiada. Menyisakan sedikit kepedihan tiap kali aku berdiri di depan pintu ini. Kenangan masa lalu seolah bergaung. Suara ibuku bagai terdengar bergema, memanggilku masuk saat pulang sekolah. Bel yang tergantung di sebelah pintu ini telah sedikit berkarat semenjak aku memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut 5 tahun lalu. Rumah peninggalan orang tuaku satu-satunya. 

Sakit kanker ibuku saat itu berada dalam stadium yang sudah tak bisa disembuhkan. Setelah menjalani sekian operasi dan terapi,  dokter mengangkat tangan. Akhirnya, ibu hanya beristirahat di rumah. Tiap hari, aku dan ayah menungguinya terpekur memandang ke luar jendela itu. Daun pohon mapel berjatuhan. Saat itu musim gugur. Sama seperti saat ini. Aku ingat raut tenangnya seolah siap menjemput ajal. Tak lama kemudian, ibu memang tutup usia. Ayah menyusul tiga bulan kemudian. 

Sepeninggal mereka, kesunyian mencekamku setiap kali berlalu lalang di rumah itu. Saat aku memandang ke luar jendela, suasana tetap tak berubah. Hening. Kawasan perkotaan  di sekitar sini memang mulai ditinggalkan oleh manusia. Pertumbuhan penduduk mulai negatif. Satu per satu dari para senior tutup usia. Tidak lagi kulihat sosok mereka yang tertatih berjalan menuju taman kota sambil menikmati masa tua. Toko-toko di pusat kota ditutup sedikit demi sedikit. Kita tak akan mendengar suara anak kecil bernyanyi riang di jalanan. Atau remaja bermain skate board di taman kota. Hanya pepohonan yang menjadi tanda bahwa masih ada sedikit kehidupan di permukiman ini. 

Rasa rindu menyergapku. Di meja makan kayu yang mulai lapuk ini dulu kami setiap hari makan bersama. Pie apel buatan ibu adalah yang paling enak di dunia. Lalu, pandanganku berhenti pada pintu di lantai atas. Itu adalah kamarku sejak kecil hingga dewasa. Saat aku membuka pintu, kertas dinding itu terlihat lapuk. Mulai terkelupas sana-sini. Teddy bear di atas meja belajarku berselimut debu. Aku menyapu kotoran tersebut dari kepalanya lalu mendudukkannya lebih tegak di atas tempat tidurku. Kemudian aku pun berlalu. Terlalu banyak kenangan di rumah ini yang membuat hatiku sakit setiap kali mengingatnya. 

Aku berjalan ke luar rumah sambil memasang papan di pintu muka rumahku. “Sold Out”. Rumahku telah dijual pada sebuah keluarga yang tinggal di pedesaan tak jauh dari kota ini. Aku suka keluarga itu. Pasangan suami istri yang harmonis dengan 5 anak mereka yang ceria. Aku berharap, kehadiran mereka dapat menciptakan kenangan yang lebih indah di rumah ini dan memberi napas baru pada kota ini. 

Aku memandang rumah itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku telah memutuskan untuk tinggal di sebuah desa yang berjarak amat jauh dari sini. Aku ingin membangun hidup yang baru di sana. Selamat tinggal semuanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar