Kamis, 29 Januari 2015

Deskripsi H-2: Sorot

Lantai ruang sidang tersebut begitu hening semenjak aku menjatuhkan vonis mati pada pamanku sendiri. Tatap mata segenap pengunjung sidang tertuju pada sosoknya yang renta dan ringkih. Beberapa di antaranya tampak menaruh iba. Namun sorot mata paman seolah pasrah. Sejenak mata kami bertatapan. Bola matanya seolah ingin mengatakan padaku,”Nak, bukankah selama ini aku selalu berada di pihakmu?” Pandangan matanya mengabur berkaca-kaca. Namun air mata tidak sampai terjatuh dari pelupuk matanya. Betapapun sorotan matanya mencoba membujukku, sia-sia saja. Dia pantas diumpankan kepada anjing atas perbuatan khianat pada Korea! Aku adalah Jenderal Besar Kim Jong Un, Putra dari Kim Jong Il. Tiada yang bisa mengampuni dosa pengkhianatan pada negara sekalipun itu adalah pamanku sendiri. Memang, dahulu dialah yang menjadi tutorku dalam mengelola negara semenjak mendiang ayah sakit-sakitan. Namun, kemudian dia berbuat makar dan menggalang dukungan untuk menjatuhkanku. Aku geram. Sekali pengkhianat tetap pengkhianat! Maka dari itu dia harus mati!!!

Kemudian paman memejamkan matanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa terhadap kerasnya keputusanku. Aku memandang ke arahnya dengan dagu terangkat. Kau pria yang lebih rendah dari anjing! Bajingan kau! Kemudian, kedua mataku terpejam membayangkan eksekusi yang akan dilakukan beberapa saat lagi itu. Aku tersenyum. Paman, kini kau akan rasakan manisnya membalas dendam... 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar