Senin, 26 Januari 2015

Manusia dan Sektor Transportasi

May Day sudah lewat jauh-jauh hari. Namun, sebuah spanduk dari salah satu parpol Islam di depan kompleks pabrik tekstil itu mengingatkanku kembali akan May Day atau Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Mei lalu.

Kawasan pabrik tekstil di Rancaekek memang relatif jarang kulalui. Hari Minggu, 30 Mei 2010, kebetulan saya melaluinya persis pada saat bubaran pabrik, yakni sekitar pukul dua siang. Para pekerja keluar pabrik bergerombol. Kebanyakan di antara mereka ialah perempuan muda berusia produktif, meski ada pula beberapa pria muda. Penampilan mereka cukup modis, namun bersahaja. Derap langkah sepatu kets ramai terdengar. Di antara mereka, tidak terlihat wajah lelah, hanya kelegaan karena jam kerja akhirnya usai.

Dalam hati, saya bertanya-tanya: apakah mereka tidak mendapat jatah libur panjang sebanyak 3 hari (karena hari raya waisak yang bertepatan dengan Jumat, 28 Mei 2010 yang otomatis disambung dengan hari sabtu dan minggu) seperti umumnya pekerja kantoran? Ataukah memang shift kerjanya demikian? Atau barangkali ada jatah lembur dengan bonus lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari? Entahlah, saya tidak tahu persis. Yang jelas, mereka berpencar ke arah yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Sebagian langsung naik angkutan umum ataupun motor pribadi menuju rumahnya. Sebagian telah ditunggu oleh para penjemput (baik itu keluarga, kerabat maupun kekasih) yang mengendarai sepeda motor. Sebagian lainnya berbelanja di seberang jalan yang dipenuhi para pedagang yang memanfaatkan jam bubaran pabrik dan hari minggu yang relatif ramai untuk mencari nafkah.

Ternyata, cukup banyak pula dari mereka yang memilih mengendarai sepeda. Ada yang bersepeda sendiri-sendiri, ada pula yang beramai-ramai. Kebanyakan berusia muda, dengan beragam aksesoris seperti tas, topi, jaket, celana dan sepatu yang berbeda, namun dengan satu kesamaan, yakni berkemeja warna biru muda. Beberapa bapak berkemeja kuning gading yang berusia paruh baya dari pabrik seberang turut meramaikan rombongan. Sambil bersepeda, mereka mengobrol ringan. Kebetulan, saat itu saya sedang dibonceng adik laki-laki saya naik motor. Tentu saja kecepatan laju kendaraan kami melampaui mereka semua. Di sepanjang trotoar, tampak pekerja perempuan berjalan santai di tengah terik matahari sambil sekedar mengobrol dengan rekan sebelah-menyebelah mereka. Namun, di badan jalan, ternyata ada ‘konvoy sepeda’ para pekerja pabrik lainnya yang terorganisir diikuti oleh sekitar 20-30 an sepeda. Mereka membentuk formasi yang unik: 4-5 pengendara perempuan bersepeda di depan, layaknya ujung tombak sebuah tim sepakbola. Tidak terlampau jauh di belakangnya, sekitar 6-8 pengendara pria mengikuti. Baru di belakang para pria ini, pengendara perempuan yang lain mengikuti. Jika diperhatikan, tampak bahwa para pengendara pria ini meski tampak santai tetap memantau rekan-rekan yang ada di depan dan belakang mereka. Mereka berkendara dengan kecepatan sedang, seakan menjaga ‘ritme’ agar semua orang berada dalam kondisi aman dari lalu lalang manusia maupun kendaraan jenis lain. Kerja sama tim yang solid sangat terasa di dalamnya. Jika dilihat dari kacamata ekonomi, sepeda memang merupakan kendaraan yang sangat terjangkau bagi masyarakat kecil. Kendaraan ini tidak memerlukan bensin atau perawatan yang wah, selain itu juga ramah lingkungan. Hanya saja, volume kendaraan bermotor di jalan raya yang padat membuat formasi 4-8-18 diperlukan agar tetap nyaman dan aman dalam mengendarai sepeda. Amat disayangkan, laju motor yang cepat pada akhirnya memisahkan saya dengan rombongan tersebut. Meski demikian, bayangan uniknya membekas cukup lama dalam ingatan saya.

Sebelum melalui jalur ini, kami melalui jalan Nagrek. Saat hendak memulai perjalanan, kami sudah mendengar mengenai kabar adanya sejumlah kecelakaan beruntun di jalur ini. Bagi pengguna jalan, jalur ini terdengar seperti ‘jalur tengkorak’ mengingat seringnya kecelakaan terjadi, khususnya pada saat liburan panjang. Kebetulan, kami melalui lokasi kejadian. Tampak sebuah kontainer jingga terguling di tepian jalan. Kontainer tersebut dikelilingi pita kuning polisi. Kendaraan cukup padat merayap. Dari sebelah kanan jalan, tampak polisi bermotor mengeluarkan aba-aba untuk mengamankan kondisi lalu lintas agar kejadian tidak terulang kembali. Rekan polisi yang lain mengatur lalu lintas dengan peluit dan aba-aba tangannya. Wajah mereka tampak lelah. Hal ini bisa dimengerti, karena pada saat warga lain berlibur, justru beban kerja mereka meningkat karena banyak pengguna jalan yang harus dijaga keselamatannya.

Mengingat rangkaian peristiwa ini, tampak bahwa sebuah sektor yang dinamai transportasi tidak hanya mobilisasi manusia, namun sebuah komponen yang membuat roda ekonomi dan kehidupan tetap berjalan. Bagi pekerja pabrik, transportasi adalah perantara untuk menghubungkan mereka kembali dengan orang terkasih, misalnya saat mereka pulang membawa uang gajian, makanan, atau buah tangan. Bagi sopir kontainer, dengan mengantarkan barang pesanan atasan ke tempat tujuan, berarti terbukalah sebuah jalan rezeki bagi orang rumah yang menanti. Bagi Pak Polisi, selain demi memberi nafkah keluarga, menjaga keamanan dan kenyamanan dalam bertransportasi berarti turut menjaga keselamatan orang lain hingga sampai ke tempat tujuan. Pada akhirnya,siapapun dia, setiap orang terhubung dengan yang lainnya. Sehingga, masing-masing harus menjaga diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. Barangkali, inilah esensi dari disiplin berkendara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar