Senin, 26 Januari 2015

Arti Segelas Teh

Malam itu menyenangkan. Walau dikelilingi wajah-wajah tak dikenal yang hanya kujumpai suaranya saat mereka menyapa di radio rasanya tetap asyik kok. Bahkan sekalipun mereka memandangku kurang bersahabat. Aku sendiri tak tahu mengapa, dan tak terlalu peduli mengapa mereka begitu. Memang pendengar radio eksklusif. Mereka komunitas yang solid. Tidak heran saat melihat sebuah wajah asing yaitu aku, pandangan mereka mengernyit. Itu bukan persoalan besar. Toh aku datang demi musik. Hampir semua genre lagu aku suka. Dan belakangan aku suka mendengarkan acara khusus yang memutar lagu-lagu Elvis Presley. Kebetulan  malam ini di Rumah Nenek Resto Cafe sedang ada acara off air membawakan lagu-lagu Elvis Presley. Meski sahabatku tak bisa menemani, mengapa tidak aku datang seorang diri?

Aku melihat daftar menu dan memilih makanan serta minuman yang ramah dikantong. Maklum belum gajian... Akhirnya pilihan jatuh pada omelet jamur dan mint tea. Sayangnya mint tea habis. Akhirnya aku ganti memesan blackcurrant tea.

Memang, namanya cafe, jual suasana. Omelet jamurnya enak, lembut. Meski begitu aku geli juga, kalau mau makanan ini bisa dibuat sendiri di rumah dengan rasa tak terlampau jauh berbeda. Namun sekitar 2009, teh blackcurrant instan kemasan kardus memang belum banyak dijual kecuali dalam kemasan botol. Kalaupun ada di toko makanan impor dan harganya lumayan. Jadi, tak ada salahnya menikmati teh jenis ini sekarang.

Kuseruput teh hangat sedikit demi sedikit. Penyanyi sedang membawakan lagu Elvis Presley yang nge-beat. Entah apa judulnya. Tehnya segar sekali. Gulanya tidak terlampau manis. Rasanya lembut, berbeda dengan teh botolan yang aroma serta rasanya kuat. Ini pasti teh impor juga. Kenyamanan dalam tiap tegukan kian menghangatkan malam itu. Akhirnya, aku pulang ke rumah dengan membawa perasaan senang.

Keluargaku memang punya tradisi minum teh. Selepas shalat subuh, ibu biasa membuat teh tubruk cap Tang, merk kesukaan keluarga. Beberapa tahun belakangan, merk yang muncul lebih variatif dan tidak melulu teh tubruk. Teh tubruk memang memiliki aroma serta rasa yang lebih pekat. Terlebih jenis teh melati. Kadang, ayah membawa teh tubruk olahan pertama dari perkebunan teh. Rasanya agak seperti abu karena tidak dicampur melati maupun wewangian lain. Teh jenis ini lebih baik diminum tawar karena kesegarannya lebih terasa. Di lain waktu, kami membuat teh tubruk poci. Meski sama-sama teh melati, rasanya berbeda dengan teh merk Tang. Demi kepraktisan, ibu pun membeli teh celup. Merknya kisaran Sariwangi, Sosro dan Prenjak. Sore hari menjelang maghrib, ibu membuat teh lagi. Total, sehari minimal 2 gelas teh kami minum. Jika hari panas, teh sisa pagi bisa diolah lagi dengan menambahkan gula dan es batu. Hmmm, segaaar...

Aku dan adikku adalah orang yang paling suka bereksperimen dengan rasa teh di rumah. Kami suka mencoba memasukkan buah maupun rempah-rempah ke dalam teh. Potongan apel cocok dihidangkan bersama teh hangat. Sementara, potongan strawberry lebih cocok untuk teh dingin. Lemon bisa dihidangkan baik untuk teh hangat maupun dingin. Bubuk kayu manis juga bisa memberikan rasa yang unik untuk teh hangat. Sayangnya meninggalkan ampas di dasar gelas. Salah satu favorit keluarga adalah teh sereh. Aku mendapatkan resepnya dari salah satu acara masak di televisi. Jadi, jerang air dan sereh di atas panci hingga mendidih, kemudian masukkan teh celup ke dalamnya. Beri parutan kulit jeruk purut, angkat. Tambahkan gula sesuai selera. Cocok sekali untuk diminum musim hujan. Jika sedang ada uang lebih dan sempat ke supermarket, adikku suka membeli teh lipton atau tong tji aneka rasa buah. Kakakku lebih suka teh hijau untuk kesehatan. Aku sendiri lebih menyukai teh walini. Teh asli buatan lokal dengan rasa dan kualitas bersaing.

Karena sudah bertahun-tahun dimanjakan oleh kehadiran teh di pagi dan sore hari, kadang aku terlena dan melupakan itu sebagai salah satu nikmat-Nya. Namun, ternyata begitu aku harus bepergian ke luar kota selama beberapa hari tanpa teh, rasanya kalang kabut. Pernah suatu ketika aku mengikuti sebuah acara workshop di luar kota selama seminggu. Sepulang dari sana, aku langsung mampir ke sebuah kedai hanya untuk membeli secangkir teh hangat. Dan begitu aku menyeruput seteguk, rasanya benar-benar seperti di rumah...

Jika sedang di luar rumah, aku senang makan di warung masakan sunda. Selain enak dan murah juga karena mereka menghidangkan teh hangat tawar sebagai teman makan nasi.  Sebuah keunikan tersendiri yang berakar dari banyaknya perkebunan teh yang dulu tesebar di Jawa Barat sejak zaman Belanda. Tak heran, teh murah meriah bahkan gratis di sini. Berbeda dengan saat aku makan di warung yang berada di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Mereka menghidangkan teh manis - budaya yang konon berakar dari banyaknya pabrik gula yang tersebar di sana pada zaman Belanda. Dan tentu saja segelas teh manis ini berarti tambahan biaya.

Teh bagiku ibarat nikotin bagi perokok. Meski begitu, untunglah belum sampai taraf kecanduan. Orang yang kecanduan minum minimal 4 gelas teh per hari. Sementara, aku sendiri masih kisaran 2-3 gelas per hari. Minimal 1 gelas per hari. Sehari saja tanpa teh bagaikan tidak makan nasi. Hanya dalam kesempatan langka saja aku tidak melakukannya. Untuk mengurangi konsumsi gula, aku membatasi diri setidaknya dalam sehari hanya mengonsumsi segelas teh manis, sisanya tawar.

Di Indonesia sendiri sedang booming kopi. Kedai kopi bermunculan bagai jamur di musim hujan. Semua menawarkan konsep yang berbeda. Mulai dari warung pinggir jalan biasa, kopi ala Italia, ala amerika, hingga kopi lokal kualitas premium. Aku sendiri bukan pembenci kopi. Aku tidak keberatan minum kopi, sayang sekali efeknya kurang baik bagi pencernaan. Bahkan hanya minum kopi dengan kadar kafein ringan seperti latte, capuccino maupun white coffee tubuh sudah berontak. Jantung berdegup kencang, perut bagai teraduk-aduk. Dan anehnya, jika orang pada umumnya tak bisa tidur selepas minum kopi, aku justru lemas dan ingin tidur. Karena itu, kupilih jalur aman dengan mengkonsumsi kopi satu gelas per minggu saja...

Sekarang, apa sih produk yang luput dari branding? Begitu pula teh. Jika komunitas kopi sudah merajalela, komunitas teh baru menggeliat. Sejumlah produk seperti walini sudah gencar melakukan brand education agar penikmat teh memiliki wawasan dan kepedulian lebih mengenai teh. Aku sendiri tidak aktif disana. Namun, begitu menemukan artikel yang membahas teh di surat kabar misalnya, pandanganku tak beralih. Sebetulnya, Indonesia adalah salah satu negara dengan jenis teh terbanyak. Sayangnya karena luas lahan perkebunan teh kian berkurang dan teknologi belum memadai, produk lokal kalah bersaing. Padahal, di eropa sana ada pasar lelang teh yang menjual produk berkualitas. Indonesia belum sanggup menembusnya sekalipun berpotensi besar. Ironisnya, produk teh mentah Indonesia banyak yang diekspor keluar kemudian diolah, dikemas dan dipasarkan ulang oleh produsen luar dengan merk impor yang harganya meningkat sekian kali lipat. Dikatakan bahwa Indonesia belum seperti Jepang, Cina, Inggris maupun India yang memiliki tingkat konsumsi teh tertinggi dunia. Dengan jumlah penduduk besar, potensi teh masih dapat terus ditingkatkan.

Sekarang lupakan dulu soal branding. Di hadapanku ada sebuah gelas plastik teh tubruk yang baru beberapa saat lalu dituang air panas ke dalamnya. Sekuntum melati mengambang di atas permukaan air. Aku teringat sebuah cerita lucu mengenai teh melati. Pada zaman Belanda, hasil panen teh terbaik diekspor keluar negeri. Penduduk lokal hanya bisa menikmati teh kualitas lebih rendah. Maka, untuk mengakali rasanya yang kurang, masyarakat berkreasi menambahkan kuntum-kuntum melati ke dalamnya, menciptakan sebuah aroma yang tak terlupakan... Bagiku sendiri teh jenis apapun istimewa. Membuatku tak sabar ingin mencicip, barang segelas lagi... 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar