Jumat, 20 Februari 2015

Deskripsi 25: Lupa



Heru terduduk lesu di kursi interogasi kantor polisi. Tak pernah diduga, kelalaian kecil yang dilakukannya telah menyebabkan musibah besar. Gara-gara kelupaan mematikan puntung rokok saat keasyikan menonton bola dua hari yang lalu, pabrik tempatnya bekerja ludes terbakar. 

“Oooh, kenapa kemarin itu aku bisa lupa?” gumamnya mengutuk diri sendiri. Karena lalai, ia telah menyebabkan bosnya merugi dan ratusan orang kehilangan pekerjaan. Ia pun kehilangan penghasilan untuk menafkahi anak istri. Setelah ini bagaimana ia harus bertahan hidup? 

Sebenarnya, tempo hari bisa saja Heru kabur dari tempat kejadian perkara. Namun, rasa bersalah dan kesadaran akan tanggung jawab mendorongnya untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Toh ia sadar, kalaulah kabur ke kampung halaman, masalah yang akan ia hadapi jauh lebih rumit dari semua ini. Selain itu, ia hanya akan membebani anggota keluarganya.

Kamis, 19 Februari 2015

Deskripsi H-24: Jarak



Fitri sedang memilah mie instan kemasan di sela matanya tertumbu pada pasangan suami istri yang sedang memilih susu untuk ibu hamil. Ia tersentak. Rizki, mantan pacarnya! Ia mundur ke rak di belakang deretan susu kental manis. Kepalanya agak merunduk agar tak terlihat oleh Rizki. Suami istri itu berdiri berimpitan. Raut wajah mereka tampak bahagia. Fitri memperhatikan sosok wanita itu dengan jantung berdegup dari sela-sela rak shampoo. Dia cantik. Kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik mencerminkan ciri khas oriental. Rambutnya hitam panjang melampaui bahu. Persis di atas dahi, rambut wanita itu ditarik ke belakang dan diganjal dengan sisir jepit hingga terkesan rapi. Tinggi tubuhnya sedikit melampaui bahu Rizki. Di bibirnya terpulas gincu merah, kontras dengan giginya yang putih bersih. Saat tersenyum, ia begitu menawan. Tubuh Fitri gemetar. Hatinya bagaikan terimpit sesuatu. Sesak! Mengapa Rizki sama sekali tak memberi tahu kalau ia sudah menikah? Sebetulnya jarak ia dengan tempat suami istri itu memilih susu untuk ibu hamil tak terlampau jauh. Namun, batinnya dengan Rizki sudah sangat berjarak.
 
Kemudian, sang istri bergerak ke daerah lain. Rizki tetap berada di tempat susu ibu hamil. Fitri nekat menghampirinya. Seketika mulut Rizki menganga. Kilas balik berbagai peristiwa berseliweran di kepalanya. Termasuk kisah cinta mereka yang kandas setahun lalu. Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan. Atmosfer kurang menyenangkan menggelayuti udara. 

“Kamu sudah menikah kenapa dulu nggak kirim undangan?” tanya Fitri lirih dengan pandangan menuduh. Rizki tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang merasa bersalah. 

Namun, belum sempat ia menjawab, sang istri telah datang. Wajahnya tampak tak senang melihat kehadiran Fitri. 

“Siapa?” tanyanya pada Rizki dengan sorot mata curiga. 

Rizki menggelengkan kepala. Gelagapan, Nggak tahu Sayang, aku lupa...” Setitik air mata menggenang di pelupuk mata Fitri. 

“Maaf Mbak, saya keliru menyapa orang,” katanya sambil berlalu dengan langkah terburu-buru. 
Tinggal wanita cantik itu menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan penuh tanda tanya.
Setelah agak jauh, Fitri tak kuasa lagi menahan tangis. Ia segera pergi ke toilet dan menangis sepuasnya. Ternyata sifat Rizki masih tidak berubah. Dasar pembohong besar! Ia mengelap ingusnya dengan tisu. Bisa-bisanya Rizki bersikap pura-pura tidak kenal? Tidak ingatkah bahwa dulu ia pernah merasakan tubuh Fitri? Ia pula yang merayu habis-habisan sehingga Fitri kehilangan pertahanan dan memberikan mahkotanya yang paling berharga! Kemudian, ia menghilang tanpa kabar dan menikah dengan wanita yang lebih cantik? Keterlaluan!

Rabu, 18 Februari 2015

Deskripsi H-23: Seluruh

Rinda terdiam. Aneh, sahabat lamanya, Lusi terlihat kian menjaga jarak. Sms tak dibalas. Curhatnya tak didengar. Semua kontak nyaris tak bersisa. Hanya friend list di facebook maupun nomer Lusi di ponselnya yang masih tersisa. Apa aku tempo hari salah bicara? Pikirnya. Mungkin saja begitu. 

Semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, Rinda menclak-menclok ke sana kemari, tidak ikut salah satu geng. Sementara Lusi akrab dengan gengnya yang terdiri atas 4 orang. Geng tersebut sangat eksklusif, tak bisa dimasuki sembarang orang termasuk Rinda. Salah satu anggora geng itu adalah si cantik Devi. Ketika itu, Devi berpacaran dengan Indra. Namun perlahan hubungan mereka putus di tengah jalan saat Indra memutuskan berkarier di luar kota. Devi sendiri adalah seorang gadis yang pikirannya sangat negatif. Hampir semua rekan sekelas tidak menyukainya kecuali geng atau cowok yang naksir dia. Risa, salah satu teman sekelas Rinda pernah mendesis kesal. Ia sedikit curcol mengenai ketidaksukaannya pada Devi. Pernah suatu ketika ia menawari Indra naik motor bareng. Devi langsung membentak dan marah seolah propertinya direbut. 

“Posesif banget sih dia, cemburuan banget!” gerutu Risa. Rinda manggut-manggut setuju. Memang sih, pasangan itu ke mana-mana selalu lengket bak perangko. Saat bukan jam kuliah, Devi selalu kedapatan sedang memeluk Indra manja. Jengah saja rasanya melihat orang yang berpacaran begitu tergila-gila! Terlebih sejak mereka pacaran, rekan-rekan Indra menjauh karena waktunya tersisa untuk Devi seorang. 

Menurut Rinda pribadi sih, keseluruhan sifat Devi agak menyebalkan. Kalau mau dibilang secara lebih positif, mereka berdua tidak cocok. Devi adalah gadis kaya yang cantik dan cerdas. Akan tetapi, pembawaannya murung. Kata-katanya pun sarkastis, tak enak didengar. Ucapannya sering terdengar sinis dan lagaknya sombong. Sifatnya yang pesimis membuat Rinda ogah dekat-dekat kalau tidak terpaksa. Tak jarang Devi melontarkan prasangka buruk pada si ini atau si itu. Membuat jengah siapa pun yang mendengarnya. Tidak hanya itu, ia pun mudah iri hati jika melihat salah satu teman berprestasi atau mendapat nilai lebih tinggi. Oooh, benar-benar tak sehat berteman dengannya! Anehnya, kesemua hal tersebut seolah tak dilihat oleh anggota geng itu. Devi dielu-elukan bagai pusat perhatian di dunia mereka sendiri. 

Namun, ada pengecualian di balik negativitasnya. Entah mengapa, banyak betul cowok mengantri untuk menyatakan cinta atau sekadar mengirimkan salam! Di luar gaya ketusnya, Devi bertubuh tinggi semampai. Ia punya kulit putih yang pucat indah. Suaranya merdu. Gayanya pun feminin. Tapi, yakin nih cowok-cowok itu kuat mendengar komentar negatifnya setiap hari? Kalau jadi cowok sih, Rinda memilih ngacir! Tapi namanya juga cowok, sejelek apapun watak cewek itu, yang penting cantik kali yaa, batinnya lagi. 

Saat terakhir kali Rinda bertemu Lusi, ia keceplosan mengatakan bahwa istri Indra memiliki raut mirip Devi namun wataknya lebih ceria. 

“Devi juga ceria kok,” komentar Lusi. Terdengar tersinggung patronnya dikritik. Seketika Rinda menutup mulut. Aduh, lagi-lagi salah bicara deh! Lagi-lagi aku nggak sensitif! 

Sejak saat itulah, Lusi seolah malas menyapanya. Padahal, dulu-dulu tiap jam kantor mereka selalu chatting di yahoo messenger. Sekarang? Boro-boro! 

Memang, selepas lulus kuliah kisah cinta Devi dan Indra agak complicated. Devi yang curigaan acapkali menuduh Indra selingkuh setelah mereka LDR. Rupanya itu juga yang menjadi bom waktu bagi putusnya hubungan mereka berdua.

Selasa, 17 Februari 2015

Deskripsi H-22: Tinggal



Berkas sinar mentari pagi memantul pada barisan bulu di permukaan ilalang liar. Tak banyak orang melirik tempat itu. Hanya sebuah jalan yang dilalui oleh lintasan rel kereta api. Bilah-bilah besi rel itu mulai berkarat. Warnanya cokelat tua kemerahan. Di sekitarnya tersebar batu kerikil. Di sela-sela batu kerikil, tumbuh satu-dua rumpun ilalang. 

Rel kereta api di tempat itu adalah satu dari peninggalan zaman Belanda yang masih dipakai hingga saat ini.  Di beberapa daerah lain, memang masih ada sisa rel. Namun, jalurnya ditutup karena sepi penumpang. Lenyap termakan zaman. 

Tak jauh dari tempat itu, berdiri sebuah bangunan sejenis balai yasa untuk perbaikan kereta. Sebagian sudut tembok bolong dan cukup banyak batu bata terlepas dari tumpukannya. Bunga bougenvil menutup salah satu sisi dinding gedung itu. Nyaris tiada sisa-sisa besi atau genteng untuk menutup atap bangunan tersebut. Demikian pula seluruh kaca jendela tampak pecah. Padahal, kelihatannya dahulu itu bangunan bermutu baik. Sayang sekali, dibiarkan begitu saja terbengkalai. 

Dahulu, kereta api pernah berjaya. Menjadi primadona angkutan antar daerah. Namun, keberadaan jalan tol mulai melenyapkan kejayaannya. Ia mengubur banyak kenangan termasuk rel dan gedung tua itu. Masa berganti, zaman berubah. Semua hal tak lagi sama, termasuk gerbong tua yang teronggok di sisi rel. Gerbong bergaya klasik itu senasib dengan kedua rekannya, termakan usia. Lapisan karat mulai menggerogoti badan, pegangan serta tangga besinya. Namun entah mengapa semuanya tetap terlihat indah di bawah sinar mentari itu. Seolah memperlihatkan bahwa ada kebaikan pada seonggok puing-puing. Puing-puing yang pernah memberikan arti bagi kelangsungan hidup manusia.

Senin, 16 Februari 2015

Deskripsi H-21: Kota

Hari telah memasuki musim gugur. Selalu ada sensasi aneh saat aku kembali mengunjungi kota ini. Pohon akan berdesir dan bernyanyi. Dedaunan beterbangan ke angkasa bagai pita yang terjalin oleh angin. Rumah bata itu masih kokok berdiri. Tempat mukim di mana aku menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuaku. Kini, mereka telah tiada. Menyisakan sedikit kepedihan tiap kali aku berdiri di depan pintu ini. Kenangan masa lalu seolah bergaung. Suara ibuku bagai terdengar bergema, memanggilku masuk saat pulang sekolah. Bel yang tergantung di sebelah pintu ini telah sedikit berkarat semenjak aku memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut 5 tahun lalu. Rumah peninggalan orang tuaku satu-satunya. 

Sakit kanker ibuku saat itu berada dalam stadium yang sudah tak bisa disembuhkan. Setelah menjalani sekian operasi dan terapi,  dokter mengangkat tangan. Akhirnya, ibu hanya beristirahat di rumah. Tiap hari, aku dan ayah menungguinya terpekur memandang ke luar jendela itu. Daun pohon mapel berjatuhan. Saat itu musim gugur. Sama seperti saat ini. Aku ingat raut tenangnya seolah siap menjemput ajal. Tak lama kemudian, ibu memang tutup usia. Ayah menyusul tiga bulan kemudian. 

Sepeninggal mereka, kesunyian mencekamku setiap kali berlalu lalang di rumah itu. Saat aku memandang ke luar jendela, suasana tetap tak berubah. Hening. Kawasan perkotaan  di sekitar sini memang mulai ditinggalkan oleh manusia. Pertumbuhan penduduk mulai negatif. Satu per satu dari para senior tutup usia. Tidak lagi kulihat sosok mereka yang tertatih berjalan menuju taman kota sambil menikmati masa tua. Toko-toko di pusat kota ditutup sedikit demi sedikit. Kita tak akan mendengar suara anak kecil bernyanyi riang di jalanan. Atau remaja bermain skate board di taman kota. Hanya pepohonan yang menjadi tanda bahwa masih ada sedikit kehidupan di permukiman ini. 

Rasa rindu menyergapku. Di meja makan kayu yang mulai lapuk ini dulu kami setiap hari makan bersama. Pie apel buatan ibu adalah yang paling enak di dunia. Lalu, pandanganku berhenti pada pintu di lantai atas. Itu adalah kamarku sejak kecil hingga dewasa. Saat aku membuka pintu, kertas dinding itu terlihat lapuk. Mulai terkelupas sana-sini. Teddy bear di atas meja belajarku berselimut debu. Aku menyapu kotoran tersebut dari kepalanya lalu mendudukkannya lebih tegak di atas tempat tidurku. Kemudian aku pun berlalu. Terlalu banyak kenangan di rumah ini yang membuat hatiku sakit setiap kali mengingatnya. 

Aku berjalan ke luar rumah sambil memasang papan di pintu muka rumahku. “Sold Out”. Rumahku telah dijual pada sebuah keluarga yang tinggal di pedesaan tak jauh dari kota ini. Aku suka keluarga itu. Pasangan suami istri yang harmonis dengan 5 anak mereka yang ceria. Aku berharap, kehadiran mereka dapat menciptakan kenangan yang lebih indah di rumah ini dan memberi napas baru pada kota ini. 

Aku memandang rumah itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku telah memutuskan untuk tinggal di sebuah desa yang berjarak amat jauh dari sini. Aku ingin membangun hidup yang baru di sana. Selamat tinggal semuanya.

Minggu, 15 Februari 2015

Deskripsi H-20: Rimbun

Siapa bilang objek wisata di sekitar Kota Bandung hanya menawarkan pariwisata modern? Tak jauh dari pusat kota, terdapat sebuah objek wisata bernama “Taman Hutan Juanda”. Masyarakat setempat lazim menyebutnya Dago Pakar. Selain terkenal oleh peninggalan berupa gua Jepang dan Belanda, terdapat pula jalur treking yang menghubungkan ke lokasi menarik lainnya seperti air terjun maupun pemandian air panas Maribaya. 

Taman Hutan Juanda sendiri bagai sebuah anomali rerimbunan pohon di tengah kegersangan yang melanda sebagian wilayah Kota Bandung akibat alih fungsi lahan. Menapaki jalur treking ini menyajikan keasyikan tersendiri. Rumpun semak khas hutan hujan tropis berpadu dengan tumbuhan konifer wilayah pegunungan. Jika jeli, terlihat sekumpulan monyet lihai melompati rerumpunan tanaman bersulur maupun pohon dengan tinggi sedang. Rimbun vegetasi dari tanaman-tanaman tersebut bagai melupakan gersang hati karena beban hidup sehari-hari.

Sabtu, 14 Februari 2015

Deskripsi H-19: Tampak

Sinaran putih mentari berkelebat di sekelilingku. Ia memantulkan warna kecokelatan helaian rambut ini. Impresi yang berbeda kurasakan antara pagi ini dengan pagi yang sama di masa kecilku. 

Lingkungan sekitarku telah berubah. Lihat apa yang berada di bawah balkon itu: hanya rumah dan aspal. Pepohonan tampak makin berkurang dan berkurang. Dulu saat aku SD di seberang sungai masih ada padang rumput luas tempat Dessy, sahabatku berburu capung. Kalau diingat itu nyaris 20 tahun yang lalu. Dan di bukit sebelah sana, rimbun rumpun bambu masih menyejukkan mata. 

Tak banyak yang bisa kubahasakan dari masa kecilku. Hanya impresi demi impresi. Cahaya mentari nan demikian murah hati menyimpan memori dari tatapan penglihatanku. Dulu aku dan teman-teman berkejaran di sisi sungai itu memperebutkan pedang sakti.

Semenjak penampakan rerimbunan satu per satu mulai menghilang, sinar surya nan ramah perlahan mulai garang. Panas menyengat kulit. Kenangan masa kecilku bagai sembunyi di baliknya, mencabik guratan indah dari secercah ingatan akan keramahan alam pada masa itu. Mereka, makhluk hijau nan indah itu kini tersembunyi di balik lapisan aspal nan tebal dan tidak memberi banyak toleransi bagi air untuk mengalun menuruninya. Tak heran sudah jika daerahku kini cukup sering dilanda banjir.